Pada kali ini saya akan
menceritakan film yang bertema kan issue. Berikut adalah review Film CIN(T)A
Cina (Sunny Soon) adalah orang Batak keturunan Tionghoa yang beragama Kristen dan sangat taat beribadah. Cina seorang mahasiswa baru jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Dan disinilah pertama kalinya Cina bertemu dengan Annisa (Saira Jihan) seorang Muslim keturunan Jawa, Annisa adalah mahasiswi tingkat akhir yang juga jurusan Arsitektur. Pada awalnya Cina tidak peduli pada keberadaan Annisa yang padahal teman-temannya selalu membicarakan Annisa karena Annisa adalah seorang artis. Karena menurut Hukum Newton I versi Cina sendiri adalah ‘kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran’. Dan benar saja ternyata IPK Annisa hanya 2,1.
Sebelum dekat, keduanya
mempunyai masalah-masalah hidupnya sendiri. Cina, mskipun keturunan Tionghoa
ttapi kehidupan ekonominya pas-pasan dan itu sebabnya Cina bekerja paruh waktu
dan mencoba mencari beasiswa untuk meringankan biaya hidup. Sedangkan Annisa,
seorang bintang film yang kesepian, dan ditambah prestasinya di bidang akademik
yang buruk membuatnya menjadi banyak pembicaraan orang. Dan itu sebabnya Annisa
membuat gambar wajah sedih di telunjuknya untuk melambangkan dirinya sendiri.
Tugas akhir Annisa pun terhambat karena pada rancangn Tugas Akhirnya Annisa
ingin membuat rumah susun yang sekelas dengan apartemen. Dan hal itu membuat Tugas
akhirnya ditolak berkali-kali karena proyek tersebut dianggap tidak visible
oleh dosennya.
Pada suatu ketika, Cina
tidak sengaja menabrak Annisa dan menjatuhkan maket Annisa hingga maket
tersebut rusak. Tetapi, tanpa sepengetahuan Annisa, Cina membuat ulang maket
Annisa dan mengembalikannya tanpa sepengetahuan Annisa. Namun, rancanngan Tugas
Akhir Annisa tetap ditolak karena konsepnya nya yang tidak visible.
Cina pun tertarik untuk
membantu Annisa untuk menyelesaikan Tugas Akhir Annisa tanpa memikirkan perkuliahannya
sendiri dan Ia tidak mendapatakan beasiswa. Apalagi mengetahui konsep Annisa
yang ingin membuat rumah susun tersebut tanpa pintu dan jendela. Karena bagi
Annisa terkadang Arsitek berasa Tuhan. Mereka berfikir mereka paling tahu apa
yang baik untuk manusia, padahal manusia itu sendirilah yang tau apa yang
terbaik untuk dirinya sendiri.
Karena pertemuan Cina
dan Annisa yang tidak terduga, akhirnya mereka berdua semakin dekat. Karena ada
banyak perbedaan diantara mereka jadi munculah banyak perdebatan-perdebatan
seperti tentang Agama, Tuhan, Cinta, dan kehidupan nyata. Banyak pula
pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari mereka berdua seperti contohnya “kenapa
Allah nyiptain kita beda-beda, kalau Allah Cuma ingin disembah dengan satu
cara?”.
Walau banyaknya
perbedaan diantara mereka tetapi Cina dan Annisa tidak pernah ada konflik
diantara mereka dan mereka pun tidak pernah bertengkar. Mereka tetap saling
menghormati satu sama lain, contohnya pada saat Idul Fitri, Cina membantu
Annisa membuat ketupat. Begitu juga sebalikanya, saat Natal pun Annisa membantu
Cina untuk menghias pohon natal.
Disini mulai terlihat
kalau keduanya ingin saling bersama tetapi terhalang oleh banyaknya perbedaan
keyakinan dan prinsip. Namun, emosi keduanya pun terpecah saat Cina dan Annisa
berdebat tentang pengeboman di gereja-gereja di Indonesia pada hari Natal.
Sejak saat itu Cina memutuskan untuk pindah ke Singapura untuk mengambil
Beasiswa disana. Alasan lainnya adalah karena Cina merasa tidak diterima di
Indonesia sebagai orang Kristen dan Ia menyadari bahwa mayoritas di Indonesia
adalah Muslim. Sedangkan Annisa akhirnya menikah dengan menerima perjodohan
dari Ibunya.
Film CIN(T)A ini
sangatlah unik karena berani mengambil isu agama tetapi tetap bersifat netral
dan tidak memihak dan bisa dibilang
‘Agama’ sangatlah sensitif bila dibicarakan dan diperdebatkan. Pesan makna dari
film ini sungguh sangat indah dan bermanfaat juga karena film ini menyampaikan
walaupun banyak perbedaan antar agama tetapi kita harus saling menghormati,
menghargai dan menyayangi. Tidak peduli apa Agama kita, siapa Tuhan kita, dan
bagaimana cara kita menyembah Tuhan Kita. Sang penulis Sally anom Sari dan sang
sutradara Sammaria Simanjuntak juga mengemas film ini dengan sangat baik dan
juga banyak menyisipkan kritik-kritik secara tidak langsung tentang masyarakat
Indonesia yang kebanyakan masih tidak bisa menghargai agama lain.
Dialog-dialog di film
ini walau dikemas secara sederhana seperti pertanyaan-pertanyaan yang tidak
perlu diperdebatkan juga sangat bermakna dan dapat mengusik kesadaran manusia
seperti contohya dialog “siapa lo berusha nyelesaiin konflik agama? Tuhan aja
gabisa” dan dari diaog ini pun kita sadar bahwa kita tidak bisa menyelesaikan
konflik agama maka janganlah membuat konflik yang hanya akan membuat kerusuhan.
kekurangan film ini
hanyalah ada pada beberapa adegan yang terdapat backsound yang cukup menggagu. Dan seperti tipikal film-film
Indonesia yang terlalu banyak adegan mellow
dan terkesan berlama-lama. Tetapi secara keseluruhan film ini sangatlah
cerdas dan banyak memberi kita banyak kritikan sekaligus pelajaran yang sangat
berharga.




