Senin, 19 Desember 2016

ISSUE

Pada kali ini saya akan menceritakan film yang bertema kan issue. Berikut adalah review Film CIN(T)A


Cina (Sunny Soon) adalah orang Batak keturunan Tionghoa yang beragama Kristen dan sangat taat beribadah. Cina seorang mahasiswa baru jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Dan disinilah pertama kalinya Cina bertemu dengan Annisa (Saira Jihan) seorang Muslim keturunan Jawa, Annisa adalah mahasiswi tingkat akhir yang juga jurusan Arsitektur. Pada awalnya Cina tidak peduli pada keberadaan Annisa yang padahal teman-temannya selalu membicarakan Annisa karena Annisa adalah seorang artis. Karena menurut Hukum Newton I versi Cina sendiri adalah ‘kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran’. Dan benar saja ternyata IPK Annisa hanya 2,1.

Sebelum dekat, keduanya mempunyai masalah-masalah hidupnya sendiri. Cina, mskipun keturunan Tionghoa ttapi kehidupan ekonominya pas-pasan dan itu sebabnya Cina bekerja paruh waktu dan mencoba mencari beasiswa untuk meringankan biaya hidup. Sedangkan Annisa, seorang bintang film yang kesepian, dan ditambah prestasinya di bidang akademik yang buruk membuatnya menjadi banyak pembicaraan orang. Dan itu sebabnya Annisa membuat gambar wajah sedih di telunjuknya untuk melambangkan dirinya sendiri. Tugas akhir Annisa pun terhambat karena pada rancangn Tugas Akhirnya Annisa ingin membuat rumah susun yang sekelas dengan apartemen. Dan hal itu membuat Tugas akhirnya ditolak berkali-kali karena proyek tersebut dianggap tidak visible oleh dosennya.

Pada suatu ketika, Cina tidak sengaja menabrak Annisa dan menjatuhkan maket Annisa hingga maket tersebut rusak. Tetapi, tanpa sepengetahuan Annisa, Cina membuat ulang maket Annisa dan mengembalikannya tanpa sepengetahuan Annisa. Namun, rancanngan Tugas Akhir Annisa tetap ditolak karena konsepnya nya yang tidak visible.

Cina pun tertarik untuk membantu Annisa untuk menyelesaikan Tugas Akhir Annisa tanpa memikirkan perkuliahannya sendiri dan Ia tidak mendapatakan beasiswa. Apalagi mengetahui konsep Annisa yang ingin membuat rumah susun tersebut tanpa pintu dan jendela. Karena bagi Annisa terkadang Arsitek berasa Tuhan. Mereka berfikir mereka paling tahu apa yang baik untuk manusia, padahal manusia itu sendirilah yang tau apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Karena pertemuan Cina dan Annisa yang tidak terduga, akhirnya mereka berdua semakin dekat. Karena ada banyak perbedaan diantara mereka jadi munculah banyak perdebatan-perdebatan seperti tentang Agama, Tuhan, Cinta, dan kehidupan nyata. Banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari mereka berdua seperti contohnya “kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalau Allah Cuma ingin disembah dengan satu cara?”.
Walau banyaknya perbedaan diantara mereka tetapi Cina dan Annisa tidak pernah ada konflik diantara mereka dan mereka pun tidak pernah bertengkar. Mereka tetap saling menghormati satu sama lain, contohnya pada saat Idul Fitri, Cina membantu Annisa membuat ketupat. Begitu juga sebalikanya, saat Natal pun Annisa membantu Cina untuk menghias pohon natal.

Disini mulai terlihat kalau keduanya ingin saling bersama tetapi terhalang oleh banyaknya perbedaan keyakinan dan prinsip. Namun, emosi keduanya pun terpecah saat Cina dan Annisa berdebat tentang pengeboman di gereja-gereja di Indonesia pada hari Natal. Sejak saat itu Cina memutuskan untuk pindah ke Singapura untuk mengambil Beasiswa disana. Alasan lainnya adalah karena Cina merasa tidak diterima di Indonesia sebagai orang Kristen dan Ia menyadari bahwa mayoritas di Indonesia adalah Muslim. Sedangkan Annisa akhirnya menikah dengan menerima perjodohan dari Ibunya.

Film CIN(T)A ini sangatlah unik karena berani mengambil isu agama tetapi tetap bersifat netral dan tidak memihak  dan bisa dibilang ‘Agama’ sangatlah sensitif bila dibicarakan dan diperdebatkan. Pesan makna dari film ini sungguh sangat indah dan bermanfaat juga karena film ini menyampaikan walaupun banyak perbedaan antar agama tetapi kita harus saling menghormati, menghargai dan menyayangi. Tidak peduli apa Agama kita, siapa Tuhan kita, dan bagaimana cara kita menyembah Tuhan Kita. Sang penulis Sally anom Sari dan sang sutradara Sammaria Simanjuntak juga mengemas film ini dengan sangat baik dan juga banyak menyisipkan kritik-kritik secara tidak langsung tentang masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih tidak bisa menghargai agama lain.

Dialog-dialog di film ini walau dikemas secara sederhana seperti pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu diperdebatkan juga sangat bermakna dan dapat mengusik kesadaran manusia seperti contohya dialog “siapa lo berusha nyelesaiin konflik agama? Tuhan aja gabisa” dan dari diaog ini pun kita sadar bahwa kita tidak bisa menyelesaikan konflik agama maka janganlah membuat konflik yang hanya akan membuat kerusuhan.


kekurangan film ini hanyalah ada pada beberapa adegan yang terdapat backsound yang cukup menggagu. Dan seperti tipikal film-film Indonesia yang terlalu banyak adegan mellow dan terkesan berlama-lama. Tetapi secara keseluruhan film ini sangatlah cerdas dan banyak memberi kita banyak kritikan sekaligus pelajaran yang sangat berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar