Pada kesempatan kali
ini saya akan menceritakan film yang berkaitan dengan trend. Berikut adalah review
film Nerve (2016)
Venus Delmonico (Emma Roberts) atau yang kerap disapa Vee hanyalah remaja biasa yang masih bersekolah. Vee bukanlah gadis yang popular disekolahnya, diibaratkan Ia hanyalah seorang dayang-dayang Sydney (Emily Meade) gadis popular dan seorang cheerleader disekolahnya.
Ketakutannya
membuat keputusan atau keluar dari zona nyamannya membuat Vee sulit untuk
berterus terang kepada ibunya (Juliette Lewis). Kehidupan Vee yang biasa saja
dan terkesan monoton berubah 180 derajat ketika Sydney berargumen bahwa Vee
terlalu takut untuk membuat keputusan dan keluar dari zona nyamannya.
Dan sejak
saat itulah Vee ingin membuktikan bahwa Ia tidak takut untuk mengambil resiko,
dan memutuskan untuk medaftarkan dirinya dalam permainan illegal berbasis
online yang bernama Nerve yang tengah
popular di kalangan remaja.aturan permainan Nerve sendiri terbilang tidak rumit
yakni saat memasuki halaman utama akan
ada dua opsi yaitu ‘pemain’ atau ‘penonton’. Memilih opsi ‘penonton’ berarti
membayar untuk menonton para ‘pemain’ melakukan tantangan melalui ponsel pintar
atau komputer.
Sedangkan memilih opsi ‘pemain’ berarti harus menyelesaikan
tantangan yang diberikan oleh server demi mendapatkan sejumlah uang. Semakin
tinggi level yang dicapai akan
semakin sulit tantangannya dan lebih besar juga uang yang akan didapat. Pemain
mencapai level tinggi tidak hanya
ditentukan oleh keberhasilan menyelesaikan tantangan, tetapi juga seberapa
banyak yang menonton dan respon penonton.
Disamping itu saat
menyelesaikan tantangan, ‘pemain’ harus merekam aksinya dengan ponsel atau
orang lain yang merekannya. Pemain memperoleh status game over apabila gagal menyelesaikan tantangan atau meneyerah. Dan
salah satu peraturan Nerve adalah;
dilarang melaporkan game ini kepada pihak yang berwenang atau akan menerima
konsekuensinya. Dalam catatan singkat permainan ini taruhannya adalah nyawa.
Awalnya, Nerve bertajuk komedi yang mengalun
santai-santai saja. Vee bertindak nekat untuk membuktikan diri, Sydney yang
haus akan popularitas sudah berpartisipasi sejak awal, dan Tommy (Miles Heizer)
sahabat Vee dan Sydney yang diam-diam jatuh hati pada Vee namun tidak mempunyai
cukup nyali untuk mengatkannya. Dan munculnya Ian (Dave Franco) yang bertemu
Vee saat Ia melakukan tantangan semakin mempersuit Tommy. Tetapi kemudian alur
cerita Nerve yang ringan dan penuh
keceriaan mulai pudar pada saat skala level
tantangannya yang semakin tinggi dan menjurus ke dalam bahaya. Juga munculnya
Ty (Machine Gun Kelly) yang semakin memperkeruh suasana membuat Nerve berpindah jalur menjadi Thriller.
Ketegangan mulai
terihat saat Vee dan Ian ditantang untuk bekerjasama dan popularitas mereka
melesat dengan cepat dengan melakukan tantang yang awalnya masih sepele seperti
jalan-jalan ditengah kota, mencoba gaun yang harganya jutaan rupiah dan
kemudian tantangannya semakin sulit seperti Ian berkendara motor dengan
kecepatan tinggi dengan mata tertutup dan Vee yang menjadi navigatornya.
Mengetahui Vee semakin tidak terkkontrol, orang-orang terdekat Vee pun
bertindak. Tommy yang ternyata juga seorang hacker mencoba membongkar identitas
Ian yang sesungguhnya dan lantas menuntunnya pada fakta yang mengejutkan.
Seiring semakin
berbahayanya permainan. Nerve pun menjadi semakin menegangkan. Dari awalanya
berada di fase menyenangkan dan menghibur karena tantangannya yang konyol,
kemudian penonton dibawa ke fase yang mendebarkan saat Vee mendapat tantangan
yang berbahaya. Terima kasih kepada Josh-Schulman yang piawai menceritakan
kembali adaptasi novel berjudul sama karya Jeanne Ryan ke dalam film menjadikan
Nerve dapat dinikmati disetiap
menitnya. Selain sanggup membuat kita terpana pada pemeran utamanya, mereka pun
berhasil membuat kita bertanya-tanya pada misterinya perihal “siapa otak
dibalik permainan nerve?”, “siapa Ian sebenarnya?”, dan juga “bagaimana cara
Vee keluar dari permainan ini?”. Dan secara tidak langsung Nerve mengeluarkan kritik sosial mengenai pengguna internet pada
saat ini. Dengan adanya banyak aplikasi dan sosial media baru yang
mengakomodasikan para netizen untuk menghalalkan berbagai cara hanya demi
perhatian dan gengsi saja. Dari pihak pemain, si pembuat film menginterpretasikan
bagaimana nikmatnya mendapatkan popularitas, tidak peduli apa yang harus
dilakukan dan apa konsekuensinya.
Sedangkan pihak
penonton divisualisasikan sebagai keyboard
warrior yang ditujukan kepada pengguna internet yang senang sekali membuat
kericuhan (cyber bully) namun banyak
yang terlalu pengecut sehingga berlindung dibalik akun anonym. Melalui Nerve,
kita dapat melihat sejauh mana dan sepintar apa manusia dapat menyembunyikan
identitasnya di dunia maya dan dapat bertindak saat tidak ada control. Yang
kebanyakan bertindak dan mengomentari sesuka hati tanpa sadar bahwa kata-kata
yang dikeluarkan dapat menyakiti.
Walau adegan
pengungkapan di klimaks film yang dirancang agak sedikit berlebihan – pula
kurang memberi jawaban pada beberapa pertanyaan tetapi nyatanya cukup memberi
kita tamparan keras sekaligus renungan setelah selesai menonton Nerve yaitu, jika satu dua kata
diinternet dapat membuat banyak perubahan, mengapa tidak kita manfaatkan untuk
hal-hal yang positif dan kenapa malah mengluarkan kata-kata yang dapat memicu
kerusuhan dan bersuka ria saat orang
lain terluka?. Dan juga mengapa mendewakan sosial media dan merasa superior dalam
dunia maya saat pada kenyataan kita tidak hidup didalamnya. Sungguh sebuah
tontonan yang sangat menghibur juga banyak terdapat pesan moral yang dapat kita
ambil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar