Senin, 19 Desember 2016

TREND

Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan film yang berkaitan dengan trend. Berikut adalah review film Nerve (2016)


Venus Delmonico (Emma Roberts) atau yang kerap disapa Vee hanyalah remaja biasa yang masih bersekolah. Vee bukanlah gadis yang popular disekolahnya, diibaratkan Ia hanyalah seorang dayang-dayang Sydney (Emily Meade) gadis popular dan seorang cheerleader disekolahnya. 

Ketakutannya membuat keputusan atau keluar dari zona nyamannya membuat Vee sulit untuk berterus terang kepada ibunya (Juliette Lewis). Kehidupan Vee yang biasa saja dan terkesan monoton berubah 180 derajat ketika Sydney berargumen bahwa Vee terlalu takut untuk membuat keputusan dan keluar dari zona nyamannya. 

Dan sejak saat itulah Vee ingin membuktikan bahwa Ia tidak takut untuk mengambil resiko, dan memutuskan untuk medaftarkan dirinya dalam permainan illegal berbasis online yang bernama Nerve yang tengah popular di kalangan remaja.aturan permainan Nerve sendiri terbilang tidak rumit yakni  saat memasuki halaman utama akan ada dua opsi yaitu ‘pemain’ atau ‘penonton’. Memilih opsi ‘penonton’ berarti membayar untuk menonton para ‘pemain’ melakukan tantangan melalui ponsel pintar atau komputer. 

Sedangkan memilih opsi ‘pemain’ berarti harus menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh server demi mendapatkan sejumlah uang. Semakin tinggi level yang dicapai akan semakin sulit tantangannya dan lebih besar juga uang yang akan didapat. Pemain mencapai level tinggi tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan menyelesaikan tantangan, tetapi juga seberapa banyak yang menonton dan respon penonton.

Disamping itu saat menyelesaikan tantangan, ‘pemain’ harus merekam aksinya dengan ponsel atau orang lain yang merekannya. Pemain memperoleh status game over apabila gagal menyelesaikan tantangan atau meneyerah. Dan salah satu peraturan Nerve adalah; dilarang melaporkan game ini kepada pihak yang berwenang atau akan menerima konsekuensinya. Dalam catatan singkat permainan ini taruhannya adalah nyawa.

Awalnya, Nerve bertajuk komedi yang mengalun santai-santai saja. Vee bertindak nekat untuk membuktikan diri, Sydney yang haus akan popularitas sudah berpartisipasi sejak awal, dan Tommy (Miles Heizer) sahabat Vee dan Sydney yang diam-diam jatuh hati pada Vee namun tidak mempunyai cukup nyali untuk mengatkannya. Dan munculnya Ian (Dave Franco) yang bertemu Vee saat Ia melakukan tantangan semakin mempersuit Tommy. Tetapi kemudian alur cerita Nerve yang ringan dan penuh keceriaan mulai pudar pada saat skala level tantangannya yang semakin tinggi dan menjurus ke dalam bahaya. Juga munculnya Ty (Machine Gun Kelly) yang semakin memperkeruh suasana membuat Nerve berpindah jalur menjadi Thriller.

Ketegangan mulai terihat saat Vee dan Ian ditantang untuk bekerjasama dan popularitas mereka melesat dengan cepat dengan melakukan tantang yang awalnya masih sepele seperti jalan-jalan ditengah kota, mencoba gaun yang harganya jutaan rupiah dan kemudian tantangannya semakin sulit seperti Ian berkendara motor dengan kecepatan tinggi dengan mata tertutup dan Vee yang menjadi navigatornya. Mengetahui Vee semakin tidak terkkontrol, orang-orang terdekat Vee pun bertindak. Tommy yang ternyata juga seorang hacker mencoba membongkar identitas Ian yang sesungguhnya dan lantas menuntunnya pada fakta yang mengejutkan.

Seiring semakin berbahayanya permainan. Nerve pun menjadi semakin menegangkan. Dari awalanya berada di fase menyenangkan dan menghibur karena tantangannya yang konyol, kemudian penonton dibawa ke fase yang mendebarkan saat Vee mendapat tantangan yang berbahaya. Terima kasih kepada Josh-Schulman yang piawai menceritakan kembali adaptasi novel berjudul sama karya Jeanne Ryan ke dalam film menjadikan Nerve dapat dinikmati disetiap menitnya. Selain sanggup membuat kita terpana pada pemeran utamanya, mereka pun berhasil membuat kita bertanya-tanya pada misterinya perihal “siapa otak dibalik permainan nerve?”, “siapa Ian sebenarnya?”, dan juga “bagaimana cara Vee keluar dari permainan ini?”. Dan secara tidak langsung Nerve mengeluarkan kritik sosial mengenai pengguna internet pada saat ini. Dengan adanya banyak aplikasi dan sosial media baru yang mengakomodasikan para netizen untuk menghalalkan berbagai cara hanya demi perhatian dan gengsi saja. Dari pihak pemain, si pembuat film menginterpretasikan bagaimana nikmatnya mendapatkan popularitas, tidak peduli apa yang harus dilakukan dan apa konsekuensinya.

Sedangkan pihak penonton divisualisasikan sebagai keyboard warrior yang ditujukan kepada pengguna internet yang senang sekali membuat kericuhan (cyber bully) namun banyak yang terlalu pengecut sehingga berlindung dibalik akun anonym. Melalui Nerve, kita dapat melihat sejauh mana dan sepintar apa manusia dapat menyembunyikan identitasnya di dunia maya dan dapat bertindak saat tidak ada control. Yang kebanyakan bertindak dan mengomentari sesuka hati tanpa sadar bahwa kata-kata yang dikeluarkan dapat menyakiti.
Walau adegan pengungkapan di klimaks film yang dirancang agak sedikit berlebihan – pula kurang memberi jawaban pada beberapa pertanyaan tetapi nyatanya cukup memberi kita tamparan keras sekaligus renungan setelah selesai menonton Nerve yaitu, jika satu dua kata diinternet dapat membuat banyak perubahan, mengapa tidak kita manfaatkan untuk hal-hal yang positif dan kenapa malah mengluarkan kata-kata yang dapat memicu kerusuhan dan  bersuka ria saat orang lain terluka?. Dan juga mengapa mendewakan sosial media dan merasa superior dalam dunia maya saat pada kenyataan kita tidak hidup didalamnya. Sungguh sebuah tontonan yang sangat menghibur juga banyak terdapat pesan moral yang dapat kita ambil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar